• Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

    Bergabunglah dengan 7 pengikut lainnya

~~~~~ berita pada kawan ~~~~~

• Gerakan Tanah Kec. Cilawu, Kab. Garut – Jawa Barat • • •
Laporan singkat hasil pemeriksaan bencana alam gerakan tanah yang terjadi di Kecamatan Cilawu, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, adalah sebagai berikut :
1. Lokasi bencana:
Lokasi bencana alam gerakan tanah terjadi di Kampung Babakankadu, Desa Sukamaju, Kecamatan Cilawu , Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat. Secara geografis lokasi gerakan tanah berada pada 107° 56’ 16,6 ” BT dan 07° 19’ 04” LS.
2. Waktu kejadian:
Gerakan tanah terjadi pada tanggal 22 Oktober 2008 setelah turun hujan deras dalam dua hari sebelumnya.
3. Dampak Bencana akibat gerakan tanah:
> Rumah tertimbun tanah longsoran, namun penghuninya selamat,
> Mushola rusak berat,
> Rumah lainnya terancam gerakan tanah sehingga penghuninya terpaksa dievakuasi.
4. Kondisi daerah bencana :
• Merupakan lereng terjal yang memiliki kemiringan 27-30 , sedangkan di bagian atas datar . Batuan dasar di sekitar kaki lereng perbukitan berupa tufa yang umumnya telah lapuk menjadi tanah lempungan, lunak dan plastis bila jenuh air dengan ketebalan mencapai lebih 10 m.Tataguna lahan pada lereng tersebut berupa lahan persawahan basah dan permukiman . Kondisi keairan pada saat terjadi bencana di lokasi ini cukup tinggi akibat lahan yang diolah sebagai persawahan basah diikuti dengan meluapnya air saluran serta hujan deras yang turun dalam beberapa hari sebelumnya. Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah Bulan Oktober 2008, Povinsi Jawa Barat dan Banten, daerah bencana termasuk Wilayah Potensi Gerakan Tanah Menengah, artinya wilayah ini dapat terjadi gerakan tanah bila dipicu oleh curah hujan tinggi terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan.
5. Kondisi dan Jenis Gerakan Tanah:
Gerakan tanah yang terjadi berupa longsoran bahan rombakan yang memiliki panjang 100-150 m, lebar 50-70 m, membentuk gawir setinggi 13 m.
6. Faktor Penyebab
Gerakan tanah di daerah ini terjadi akibat beberapa faktor, yaitu :
• Adanya tanah pelapukan lempung yang memiliki sifat lunak dan plastis bila jenuh air. Penggunaan lahan yang tidak tepat yaitu mengolah lahan persawahan basah pada lereng yang dibangun oleh tanah lempung yang peka terhadap air. Adanya rembesan air dari saluran air yang masuk menuju lereng tersebut sehingga daya dukung tanahnya menjadi terganggu.
• Curah hujan yang tinggi.
7. Mekanisme Gerakan Tanah:
Gerakan tanah diawali dengan adanya penurunan kekuatan (strength) tanah pelapukan lempung pada lereng, akibat kondisi jenuh air yang diakibatkan oleh masuknya air dari saluran air maupun curah hujan yang tinggi sehingga stabilitas lereng di lokasi ini terganggu sehingga lereng bergerak.

8. Rekomendasi:
• Tujuh rumah yang terancam agar direlokasi ke tempat lain yang aman. Supaya stabilitas lereng tidak terganggu, maka daerah sekitar tebing lereng cocok menjadi lahan kering (tidak memerlukan banyak air) . Tidak membuat saluran air dekat tebing lereng, untuk menghindari terjadinya rembesan air pada lereng, dibuat saluran kedap air. Agar tidak membangun permukiman di atas, pada dan di bawah sawah dengan kemiringan sedang hingga terjal. Pemerintah daerah setempat perlu memberikan sosialisasi /penyuluhan kepada masyarakat di daerah bencana.

TIM MITIGASI BENCANA BPPT BERI REKOMENDASI LONGSOR CIWIDEY

Longsor yang terjadi di daerah Ciwidey, Kabupaten Bandung, Selasa (23/02) lalu, menimbulkan kerugian yang besar secara materiil dan menelan korban jiwa yang cukup banyak. Tercatat lebih dari 400 rumah rusak berat dan lebih dari 1000 rumah rumah rusak ringan. Menurut data terakhir, 33 orang meninggal dunia dan ratusan orang harus mengungsi dari tempat tinggalnya. Secara resmi, proses evakuasi pencarian korban longsor yang masih tertimbun, dihentikan kemarin, Senin (01/03).
“Longsor yang terjadi di Ciwidey, tentunya menjadi keprihatinan kita semua. Tim dari BPPT telah melakukan perjalanan ke daerah tersebut satu hari setelah kejadian. Setelah itu, kami mencoba menganalisa secara teknis, hal-hal yang menyebabkan terjadinya longsor tersebut, serta menelaah lebih jauh tindakan preventif yang dapat dilakukan dimasa mendatang”, tutur Direktur Pusat Teknologi Sumberdaya Lahan Wilayah dan Mitigasi Bencana (PTSLWB) BPPT, Ridwan Djamaluddin saat memberikan keterangan press di Executive Lounge BPPT, Senin (01/03).
Dengan diadakannya keterangan press berkaitan longsor tersebut, Ridwan mengharapkan peran serta dari para wartawan untuk menginformasikan kepada khalayak luas, bagaimana mengantisipasi datangnya bencana dimasa mendatang. “Tujuan utama mitigasi bencana adalah untuk mengurangi korban jiwa yang timbul. Tanggung jawab terhadap mitigasi bencana bukan hanya diperuntukan bagi pemerintah pusat, peran pemerintah daerah dan masyarakat setempat juga turut mempengaruhi dampak keberhasilan”, jelasnya. “Longsor di Ciwidey terjadi saat hujan turun tidak deras. Namun memang, akumulasi curah hujan yang terjadi dari tanggal 1 Februari hingga 23 Februari lebih besar 480% dari rata-rata normal yang sebesar 220mm/bulan”, ungkap Kepala Bidang Teknologi Mitigasi Bencana BPPT, Sutopo Purwo Nugroho dalam presentasinya. Berdasarkan pengamatan dilapangan, Sutopo mengatakan bahwa dapat diketahui, dulu pernah terjadi longsor serupa di tempat yang sama. “Dilihat dari kondisi daerah bencana, berdasarkan Peta Prakiraan Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada bulan Februari 2010 di Jawa Barat, (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi-red), daerah bencana terletak pada zona potensi terjadi gerakan tanah menengah sampai tinggi. Artinya daerah ini dapat terjadi gerakan tanah, jika curah hujan di atas normal. Terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan”. Lebih jauh Sutopo menuturkan, potensi terjadinya longsor susulan cukup besar, selain terdapatnya banyak mata air didaerah tersebut yang mempercepat proses kejenuhan dan menurunkan kestabilan tanah serta tidak adanya jaminan bahwa hutan yang baik aman terhadap longsor secara mutlak. “Berangkat dari hal tersebut, kami memberikan rekomendasi yang dianggap perlu untuk dijadikan bahan pertimbangan, diantaranya (1) Permukiman perlu ditempatkan pada daerah yang lebih aman dengan sistem cluster di berbagai lokasi, (2) Pemilihan lokasi mempertimbangan analisis risiko bencana dan tata ruang detil, (3) Konservasi berbasis biogeo-engineering. Pada lembah-lembah perbukitan perlu ditanami dengan pepohonan jenis kayu yang memiliki perakaran dalam, berfungsi sebagai penahan longsor. Buffer zone antara kawasan perlindungan dengan kawasan budidaya di bagian bawahnya dibuat dengan tanaman pohon yang kuat, ditanam rapat dan membentuk sabuk hijau yang tebal, (4) Perlu dibangun sistem peringatan dini longsor berbasis kondisi geologi dengan aspek dinamis curah hujan, (5) Perlu dibuat peta kerentanan longsor yang dinamis dengan skala detil, dan yang terakhir (6) adalah perlu dievaluasi secara resiko bencana longsor tentang keberadaan permukiman di selatan Jabar”, tandasnya.

“Terdapat 154 Kabupaten dan Kota di Indonesia yang rawan longsor dan tren ke depan menunjukkan akan meningkatnya ancaman bencana longsor dikarenakan tingginya pola curah hujan dan perubahan akan penggunaan lahan. Bencana selalu terjadi pada saat kita tidak siap. Untuk itu daerah perlu memiliki rencana penanggulangan bencana yang didukung dengan penyiapan anggaran yang memadai. Perlindungan masyarakat terhadap bencana juga harus dilakukan sejak saat tanggap darurat dan pasca bencana untuk mengurangi risiko dan dampak bencana. Penanganan pasca bencana yang meliputi rehabilitasi dan rekonstruksi dengan pola gotong royong perlu dilakukan untuk memperkuat solidaritas sosial yang akan membangun ketahanan masyarakat terhadap bencana”, ujar Ridwan. (YRA/humas)

Mengapa Setelah Gerhana Muncul Bencana?
Gerhana merupakan suatu peristiwa alam yang dahulu merupakan suatu hal yang ditakuti sehingga diadakan upacara-upacara ritual. Di dalam agama Islam dianjurkan untuk mengadakan sholat sunat gerhana dengan tujuan untuk sebagai rasa takjub pada kekuasaan Illahi dengan adanya peristiwa alam ini.
Kemarin saat ngobrol-ngobrol tentang meteor shower, tiba-tiba temanku bertanya padaku, “Eh pernah perhatikan nggak kalau setiap habis gerhana, pasti ada bencana yang terjadi di Indonesia.” Saat ditanya demikian, aku mencoba untuk mengkilas balik peristiwa-peristiwa yang ada… hmmm. Emang sih sepertinya bencana terjadi setelah beberapa setelah peristiwa gerhana. Tapi untuk jelasnya ya kita cari tahu apa benar demikian?
Lalu hari ini, aku penasaran untuk mencari tahu mengapa setelah gerhana muncul, yang timbul bencana?
Menurut Komisariat Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sumbar Ade Edward (alumni ITB) bahwa terjadinya gerhana bulan total (total moon elips) berpotensi menimbulkan gejala alam lain seperti gempa bumi, gelombang pasang, dan badai. Gerhana bulan ini akan berpengaruh terhadap gaya gravitasi bumi.
Selama proses gerhana berlangsung terjadi proses perubahan global gaya gravitasi bumi dan parameter fisika bumi yang berlangsung dalam waktu singkat. Hal ini akan mempengaruhi gerak dinamis bumi, diantaranya sifat magnetik bumi (geomagnet), sifat listrik (geolistrik), dan gaya berat bumi. Perubahan ini juga akan diikuti dengan perubahan kondisi cuaca mikro, mulai dari temperatur, kecepatan/ arah angin, tinggi/ arah gelombang samudra serta curah hujan.

Seiring dengan proses gerhana bulan total ini, juga akan muncul perubahan-perubahan parameter fisik dan cuaca di bumi. Jika berlangsung terus maka dapat memicu terjadinya peristiwa gejala fisik di muka bumi yang dapat menjadi bencana. Seperti hujan, badai, puting beliung, banjir pasang, gelombang samudera, gelombang pasang, longsor/gerakan tanah, gempa tektonik, gempa runtuhan/ brurial serta aktivitas vulkanik. Jika kejadian gempa tersebut terjadi di laut, maka bisa berpotensi tsunami.
Wah… rupanya informasi dari IAGI benar. Ternyata gerhana bisa menimbulkan adanya bencana di tempat kita Indonesia ini, yang secara geografis merupakan negara yang terletak dari pertemuan lempeng aktif yaitu lempeng eurasia dan lempeng hindia australia. Jadi, mari kita sama-sama waspada…
Salah satu lagu ini tidak akan pernah lupa di telinga kita :

Perjalanan ini
Trasa sangat menyedihkan
Sayang engkau tak duduk
Disampingku kawan

Banyak cerita
Yang mestinya kau saksikan
Di tanah kering bebatuan

Tubuhku terguncang
Dihempas batu jalanan
Hati tergetar menatap
kering rerumputan

Perjalanan ini pun
Seperti jadi saksi
Gembala kecil
Menangis sedih …

Kawan coba dengar apa jawabnya
Ketika di kutanya mengapa
Bapak ibunya tlah lama mati
Ditelan bencana tanah ini

Sesampainya di laut
Kukabarkan semuanya
Kepada karang kepada ombak
Kepada matahari

Tetapi semua diam
Tetapi semua bisu
Tinggal aku sendiri
Terpaku menatap langit

Barangkali di sana
ada jawabnya
Mengapa di tanahku terjadi bencana

Mungkin Tuhan mulai bosan
Melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga
dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan
Bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada
Rumput yang bergoyang

Apakah ini pertanda jawaban kehidupan. Menurut saya, karna penghijauan mulai mengikis akibat manusia itu sendiri maka sumber kehidupan pada alam mulai mengikis pula. Dulu ketika saya berumur 5 tahun, setelah bagun pagi udara masih terasa sangat dingin di kulit ini, tapi sekarang sudah tak terasa lagi rasa dingin di pagi hari. Ayo sebagai manusia kita WAJIB menjaga lingkungan ini agar tetap asri dan damai….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: